
Komnasbpklhnews.com KAB. BEKASI, – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung turun ke lapangan. Kamis 11 Juni 2026, Kang Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM meninjau pasar tumpah di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi yang selama ini jadi sorotan karena bikin macet dan semrawut.
Dalam blusukannya, KDM ngobrol langsung sama pedagang kaki lima (PKL). Nggak ada bentak-bentak, nggak ada gusur paksa yang ada dialog dari hati ke hati: gimana caranya pasar tetap jalan, pedagang tetap dagang, tapi jalanan juga lancar.
Menurut KDM, Pedagang harus hidup, kota harus tertib, PKL itu bagian dari ekonomi rakyat. Mereka nyari nafkah halal untuk menapkahi keluarganya.
Tapi kalau semua jualan di badan jalan, yang rugi semua, warga akhirnya kejebak macet, pedagang juga rawan kecelakaan.
3 Poin arahan KDM di Cikarang:
1. Humanis dulu: Semua penataan wajib ngobrol sama pedagang. Nggak ada “main cabut” lapak.
2. Tata ruang jelas: Pemkab siapkan zona khusus PKL. PKL nggak diusir, tapi dipindah ke tempat yang lebih layak.
3. Berantas pungli: KDM minta aparat bersihin oknum preman/petugas yang suka malak pedagang. Pedagang kecil harus bebas dari intimidasi.

Langkah ini nyambung sama gaya KDM selama ini. Waktu beresin warung remang-remang atau tata PKL di daerah lain, beliau selalu pakai pendekatan “ngerti dulu baru atur”. Hasilnya: lebih efektif dan nggak bikin konflik.
Warga Cikarang yang ketemu KDM di lokasi kompak bilang setuju. Macet berkurang,
Pedagang tetap bisa jualan rezeki lancar. “Asal ada tempatnya Pak Gubernur, kami mah nurut,” kata salah satu pedagang sayur, Kamis (11/6/2026).
Pemkab Bekasi ditarget oleh KDM buat segera bikin desain penataan, sosialisasi ke PKL. Targetnya: Cikarang jadi contoh “pasar modern” tanpa ngorbanin para pedagang kaki lima/pedagang kecil.
(D-Hunter/Red)
