
Komnasbpklhnews.com KAB. KARAWANG, — Dugaan sementara letak benteng Tanjungpura berada di A, di sisi selatan Citarum dan di sisi barat Jalan Raya Pasar Bojong. Lokasi benteng Tanjungpura berada di tempuran Cibeet dengan Citarum. Kawasan ini menjadi strategis sejak lama.
Kini, di kawasan Tanjungpura itu terdapat enam jembatan yang berdampingan, yang membujur tenggara barat laut, menghubungkan Kabupaten Karawang dengan Bekasi. Pertama dua jembatan Jalan Raya Pasar Bojong, yang menghubungkan Jalan Rangga Gede, Karawang, dengan Jalan Raya Bojongsari, Bekasi. Kedua dua jembatan rel kereta api, dan ketiga dua jembatan Jalan Raya Tanjungpura/Jalan Raya Pantura. Keenam jembatan itu dibangun di atas Citarum, yang saat ini lebar sungainya sekitar 65 m. Bila sedang meluap, banjir akan menutupi bantaran sungai, sehingga lebarnya menjadi 150 m.
Kawasan ini sudah lama dipetakan, seperti yang terdapat dalam peta yang dihimpun oleh F de Haan (1910-1912), dan kini menjadi koleksi Arsip Nasional Indonesia (ANRI). Dalam himpunan peta tersebut terdapat peta benteng Tanjungpura, Karawang. Inilah benteng pertama yang dibangun oleh kompeni tahun 1678 di luar Batavia.
Benteng ini dibangun untuk kepentingan perdagangan, pertahanan, dan mengadili warga masyarakat yang dipandang membangkang kepada VOC. Setahun kemudian, pada tahun 1679, benteng ini diserang dan dibakar oleh Wirasaba, bupati/patih Tanjungpura. Namun, akhirnya Wirasaba menyerah. Kekhawatiran kompeni akan serangan susulan, diusulkanlah agar benteng dibuat permanen. Namun tidak terlaksana. Pada tahun 1712 dilaksanakn pemagaran sekeliling benteng dengan kayu yang tinggi, yang ujung atasnya diruncingkan.
Baru pada tahun 1749 benteng Tanjungpura dibangun lebih permanen menggunakan batubata. Melihat pentingannya benteng ini, pada tahun 1802 dibangun kembali lebih kokoh. Setelah pergantian gubernur jenderal menjadi HW Daendels, pada tahun 1809 Daendels memerintahkan agar benteng dikosongkan. Berselang dua tahun, pada tahun 1811, ia memerintahkan untuk menjual benteng beserta lahannya. Pada tahun 1812 benteng dan lahannya ada yang membeli, namun, pada tahun 1813 benteng Tanjugpura dirobohkan.
Lokasi benteng Tanjungpura berada di tempuran Cibeet dengan Citarum. Kawasan ini menjadi strategis sejak lama. Ketika kopi menjadi komoditas ekspor yang sangat menguntungkan, setelah dipanen, kopi disetorkan dan ditimbang di gudang-gudang kecil, kemudian diangkut ke gudang-gudang yang lebih besar, di antaranya di Cikaobandung. Saat itu belum ada jalan yang dapat dilalui pedati. Karung-karung kopi dipikul oleh penduduk, atau ditumpuk di punggung kerbau, karena itulah binatang yang paling tangguh di medan pegunungan, lalu beriringan menuju gudang-gudang yang lebih besar di Cikaobandung.
Ketika kopi dari Priangan ditongkangkan di dermaga Cikaobandung (+40 m dpl) di pinggir aliran Citarum, (kini termasuk Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta), setelah mengalun di Citarum sejauh 45 km dari Cikaobandung, akan sampai di pos/benteng Tanjungpura. Dari benteng Tanjungpurna, tongkang itu masih mengalun sejauh 85 km menuju6 Muaragembong (+ 0 m dpl).
Ketika di Laut Jawa terjadi pasang surut, permukaan air lautnya turun, maka perahu akan meluncur lebih cepat menuju muara. Dari muara Citarum perjalanan tongkan bermuatan kopi masih belum berakhir. Dari sana dilanjutkan menyusuri pinggiran Teluk Jakarta menuju Batavia.
Jauh sebelum itu, di muara Citarum, terdapat Kerajaan Tarumanagara, pada saat ini lokasinya berada di Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Kabupaten Karawang. Pada saat kejayaannya, candi-candi itu berada di muara Citarum, di pinggir pantai, sehingga muara sungai menjadi pelabuhan alami, tempat melabuhkan kapal-kapal dari berbagai kawasan.
Candi-candi di komplek percandian Batujaya itu berwarna putih, karena susunan bata merahnya dilapisi, dilepa, diplester dengan stuko (stucco) memakai kapur padam. Sejak abad ke V, teknologi lepa stuko sudah dikenal dan menjadi salahsatu keahlian warga di Kerajaan Tarumanagara. Menurut Hasan Djafar (2000, 2010) hampir di semua kaki candi di komplek percandian Batujaya terdapat lapisan kapur padam antara 1-2 cm. Dari muara sungai Ci Tarum saat itu, candi-candi di sana laksana teratai yang mekar di atas air. Pembuatan kapur padamnya di kawasan perbukitan batukapur di Pekapuran, Pangkalan, Karawang.
Kawasan ini dilintasi Cibeet, anak Citarum, sebagai sarana pengangkutannya. Batukapur padam diproses dengan pembakaran di Pekapuran, Pangkalan, kemudian hasilnya, kapurpadamnya, diangkut dengan perahu atau tongkang, setelah mengalun sejauh 45 km dari Pekapuran akan sampai di tempuran Cibeet dengan Citarum, yang pada zaman kompeni di sini didirikan benteng Tanjungpura. Dari lokasi ini masih perlu melanjutkan pengarungan Citarum sejauh 17 km, baru akan sampai di lokasi komplek percandian Batujaya.
Di lokasi yang sangat penting pada zamannya itu, kini tak memperlihatkan tanda-tanda apapun. Yang memperkuat jejaknya, di sana masih terpelihara Vihara Sian Djin Kupoh (Vihara Ma Ku Poh), walau pun arah hadapnya yang semula ke arah Citarum, kini telah disesuaikan dengan ketentuan pembangunan vihara. Setelah memperhatikan peta benteng Tanjungpura yang dihimpun F de Haan, dapatlah diduga letak benteng Tanjungpura, yaitu berada di sisi selatan Citarum, di sisi barat Jalan Raya Pasar Bojong.
Setidaknya ada empat titik yang perlu diberi penanda sebagai bukti perjalanan sebagian sejarah Karawang di sepanjang aliran Cibeet dan Citarum, pertama di Pekapuran, kedua di Tanjungpura, ketiga di Batujaya, dan keempat di Ujung Karawang. Sebetulnya lima titik, bila Cikaobandung dimasukan, karena pada zaman kompeni, kawasan ini termasuk Distrik Karawang.
(Jejen)
Sumber : Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
