
Komnasbpklhnews.com MAJALENGKA, — Padepokan Pencak Silat Fajar Kencana Kumpay Kuning Putra (FKKKP) yang berada di Desa Nagarakembang, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, masih menjadi salah satu pusat pelestarian pencak silat tradisional yang terus bertahan dan berkembang hingga sekarang.
Pembina sekaligus Guru Utama FKKKP, Yusnil Azidda, menjelaskan bahwa padepokan yang dipimpinnya merupakan generasi ketiga dari aliran Kumpay Kuning yang telah tumbuh dan berkembang selama lebih dari lima dekade.
“Sekarang sudah 54 tahun. Ini merupakan warisan budaya yang terus kami jaga dan kembangkan,” kata Yusnil, Sabtu (30/05).
Ia menuturkan, sejarah awal padepokan bermula dari seorang guru silat asal Majalengka yang menimba ilmu di Bandung sebelum kembali dan mengembangkannya di daerah asalnya.
Perjalanan waktu kemudian membuat aliran Kumpay Kuning terus berkembang hingga melahirkan generasi penerus yang saat ini dikenal dengan nama Kumpay Kuning Putra.
Selain mempertahankan jurus-jurus pokok yang diwariskan dari aliran Kumpay Kuning, padepokan tersebut juga memperkaya khazanah gerakan dengan berbagai ibingan dan jurus khas, di antaranya Plered, Jagat Raharja, Cipta Rasa, serta Golok Kembar.
Keberadaan FKKKP tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Saat ini para murid yang menimba ilmu berasal dari berbagai wilayah di Kecamatan Cingambul maupun Kecamatan Cikijing.
“Kami juga mengajar di sekolah-sekolah. Jadi regenerasi terus berjalan. Anak-anak dikenalkan pada silat tradisi dan silat tunggal baku sejak usia dini,” ujarnya.
Peran padepokan yang telah melahirkan banyak pesilat di Desa Nagarakembang turut mendorong terbentuknya Kampung Silat pada tahun 2022.
Yusnil mengatakan, penyematan sebutan Kampung Silat lahir dari kondisi masyarakat setempat yang sangat dekat dengan tradisi pencak silat. Hampir seluruh keluarga memiliki anggota yang menguasai bela diri tersebut, mulai dari generasi tertua hingga anak-anak.
“Dari aki, nini, orang tua sampai anak-anak bisa silat. Karena itu kami ingin kampung silat ini menjadi destinasi wisata budaya sekaligus tempat pelestarian tradisi,” katanya.
Untuk menjaga keberlangsungan budaya yang diwariskan turun-temurun, berbagai agenda rutin diselenggarakan setiap pekan. Salah satunya berupa latihan gabungan yang melibatkan sejumlah padepokan serta pelajar dari berbagai sekolah.
Di sisi lain, FKKKP juga menorehkan sederet capaian membanggakan di bidang prestasi. Dalam ajang pencak silat tradisional tingkat nasional pada 2022 dan 2023, mereka sukses meraih gelar juara umum dengan mengoleksi medali emas di berbagai kelompok usia.
“Tahun 2022 dan 2023 kami juara umum tingkat nasional. Dari kategori anak-anak, remaja hingga dewasa berhasil meraih emas,” ungkapnya.
Raihan prestasi tersebut berlanjut ke level internasional ketika tim FKKKP berhasil menempati posisi juara ketiga dalam kompetisi yang berlangsung di Bandung dan diikuti peserta dari berbagai negara.
(D-Hunter)