
Komnasbpklhnews.com
BEKASI, – Aliran Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) kini berada dalam kondisi kritis akibat pencemaran masif yang terjadi secara terstruktur. Praktik lancung pembuangan limbah industri dari wilayah hulu yang sengaja memanfaatkan waktu kegelapan malam, kini terbukti menghancurnya ekosistem sungai hingga bermuara pada kelumpuhan total sumber penghasilan ratusan nelayan tradisional di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi.
Berdasarkan data dan laporan investigasi lapangan, aliran air yang telah berubah menjadi hitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat yang sangat tajam terpantau melintasi wilayah Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi. Aliran hitam beracun ini mengalir tanpa henti membelah daratan hingga mencapai wilayah laut di dua kecamatan pesisir utama, yakni Kecamatan Tarumajaya dan Kecamatan Muara Gembong.
Modus Operasi “Kucing-Kucingan” di Waktu Malam
Indikasi ketidakpatuhan sejumlah perusahaan di kawasan industri hulu kian terang benderang. Guna menghindari endusan petugas dan pengawasan publik, sejumlah pabrik nakal diduga kuat sengaja menggelontorkan limbah sisa produksi mereka tanpa melalui proses Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada waktu-waktu tertentu. Aktivitas pembuangan ini dilaporkan marak terjadi pada waktu setelah Magrib hingga malam hari. Akibatnya, pada pagi hari, aliran sungai di sepanjang Sukawangi hingga wilayah hilir sudah dalam kondisi menghitam dan membusuk.

Kondisi tersebut diperparah dengan karut-marut aktivitas di sektor hilir perairan. Kelompok nelayan lokal mengeluhkan operasional armada kapal tongkang pengangkut batu bara yang beraktivitas secara masif pada malam hingga dini hari, tepatnya mulai pukul 20.00 WIB sampai pagi pukul 03.00 WIB.
Jadwal operasional kapal tongkang besar ini tepat berada pada jam-jam krusial di mana nelayan tradisional mulai turun ke laut. Keberadaan pipa-pipa besar yang malang-melintang di tengah jalur perairan dari aktivitas tersebut tidak hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga mengancam keselamatan perahu-perahu kayu nelayan di kegelapan malam.
Ekosistem Hancur, Nelayan Kehilangan Penghasilan
Dampak dari hantaman limbah harian dan sanksi ekologis ini dirasakan langsung secara ekstrem oleh ratusan kepala keluarga di tiga desa pesisir Muara Gembong, yaitu Desa Pantai Mekar, Desa Pantai Sederhana, dan Desa Pantai Bahagia. Mayoritas warga yang menggantungkan hidupnya 100 persen dari hasil laut kini dilaporkan sama sekali tidak memiliki penghasilan.
Satim, seorang nelayan asli Muara Gembong dari RT 03 Kampung Poncol, Desa Pantai Mekar, membeberkan penderitaan berlapis yang mereka alami. Menurut pria yang sudah melaut sejak usia 13 tahun ini, kerusakan lingkungan akibat limbah pabrik sudah masuk dalam tahap yang mutlak merusak.
“Limbah pabrik itu dikirim hampir setiap hari. Paling hanya dua hari dalam seminggu nelayan sedikit agak berkah, itu pun hanya cukup buat makan di rumah, bukan untuk kaya. Besoknya, limbah total dikirim lagi,” ungkap Satim kepada komnasbpklhnews.com dengan nada getir
Akibat racun kimia yang mengendap bertahun-tahun, ekosistem laut tempat bersarangnya ikan dan udang rusak parah. Seluruh alat tangkap tradisional milik nelayan lokal, mulai dari jaring, bagang, hingga alat tangkap sejenisnya kini sudah tidak bisa berfungsi alias mati total karena hancur diterjang material limbah. Belum lagi jika air banjir datang, perairan mereka akan diselimuti hamparan sampah plastik domestik.
Berharap Ada Tindakan Oleh Pihak Terkait
Masyarakat nelayan menegaskan bahwa keluhan ini dirasakan oleh seluruh lapisan warga, bahkan anak-anak di pesisir pun sudah memahami pahitnya penderitaan ini. Ditengah kepungan air hitam yang berbau menyengat serta masifnya lalu lintas armada angkutan batu bara, warga sangat berharap adanya tindakan nyata dan respons konkret dari pihak-pihak terkait termasuk pengelola industri berupa kompensasi atau perlindungan ruang hidup.
“Kami sangat berharap ada pihak yang bisa mengusahakan solusi bagi kami. Kalau memang ada solusi dari pihak-pihak pabrik atau gimana yang bisa mengusahakan, ya masyarakat sini sangat berharap dan sangat bersyukur,” ungkap Satim dengan penuh harap.
(Redaksi)
