
Komnasbpklhnews.com
KAB. SERANG, — Sorak tepuk tangan memecah suasana Coffee Satu Asa di Graha Pena Radar Banten, Kota Serang. Di tengah kerumunan pengunjung, puluhan pesilat bergantian memasuki arena. Gerak mereka tegas, langkahnya mantap, sesekali diselingi teriakan khas yang mengiringi setiap jurus yang diperagakan.
Malam itu, Perguruan Terumbu Banten tidak sekadar menampilkan seni bela diri. Mereka membawa sepotong warisan budaya Banten ke hadapan masyarakat melalui gelaran Panggung Asa.
Anak-anak, remaja, hingga pesilat dewasa tampil bergantian. Dengan pakaian serba hitam, mereka memperlihatkan berbagai jurus khas Terumbu Banten yang telah diwariskan turun-temurun. Kekompakan, kelincahan, dan ketangkasan para pesilat berhasil memikat perhatian para pengunjung yang memenuhi area pertunjukan.
Bagi Terumbu Banten, penampilan tersebut bukan hanya menjadi hiburan. Lebih dari itu, panggung tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan pencak silat sebagai identitas budaya yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Sekretaris Jenderal DPP Terumbu Banten mengatakan, eksistensi perguruan terus berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap pencak silat, terutama setelah seni bela diri tersebut masuk sebagai muatan lokal di sejumlah sekolah, mulai tingkat SD, SMP, hingga SMA.
Menurutnya, kebijakan itu menjadi salah satu pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal pencak silat sekaligus memperluas keberadaan Perguruan Terumbu di tengah masyarakat.
”Hal itu menjadi salah satu kunci sehingga eksistensi Perguruan Terumbu semakin dikenal dan mulai banyak diminati oleh masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, ia berharap ketertarikan terhadap pencak silat tidak berhenti sebagai kewajiban belajar di sekolah. Generasi muda diharapkan tumbuh dengan kesadaran untuk mencintai budaya sendiri dan ikut menjaga keberlangsungannya melalui organisasi kebudayaan seperti Terumbu Banten.
”Dengan berkembangnya zaman, kami berharap muncul gairah dari kalangan anak muda untuk mencintai budaya sendiri sehingga organisasi kebudayaan ini terus berkembang dan mampu mengikuti perubahan zaman,” katanya.
Harapan serupa juga disampaikan Direktur Radar Banten Grup, Mashudi. Menurutnya, pencak silat merupakan warisan budaya tak benda yang membutuhkan ruang agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Ia menilai budaya tidak akan bertahan jika hanya disimpan sebagai cerita. Budaya harus diberi kesempatan untuk dipertunjukkan, dikenalkan, dan dinikmati oleh masyarakat, terutama generasi muda.
”Kalau warisan budaya yang luar biasa ini tidak kita bantu mengenalkan dan memasarkan, lama-kelamaan orang bisa tidak tahu. Bahkan bukan tidak mungkin suatu saat bisa hilang jika tidak ada yang memfasilitasi untuk tampil,” ujarnya.
Melalui Panggung Asa, Radar Banten Grup berupaya menghadirkan ruang bagi komunitas seni dan budaya untuk menampilkan karya mereka kepada publik. Tidak hanya pencak silat, panggung tersebut juga akan menjadi tempat berbagai kesenian yang tumbuh di Banten, termasuk budaya dari berbagai daerah yang hidup dan berkembang di wilayah ini.
Di penghujung pertunjukan, tepuk tangan kembali menggema. Bukan sekadar apresiasi untuk atraksi yang memukau, tetapi juga menjadi tanda bahwa warisan budaya masih memiliki tempat di hati masyarakat ketika diberi ruang untuk terus hidup dan berkembang.
(D-Hunter/Red)
Sumber : Radar Banten Grup
